Jumat, 08 Maret 2013

Teori Inflasi Menurut Pandangan Islam


A.  Pengertian Inflasi
Pengertian inflasi Islam tidak berbeda dengan inflasi konvensional. Inflasi mempunyai pengertian sebagai sebuah gejala kenaikan harga barang yang bersifat umum dan terus-menerus. Dari pengertian ini, inflasi mempunyai penjelasan bahwa inflasi merupakan suatu gejala dimana banyak terjadi kenaikan harga barang yang terjadi secara sengaja ataupun secara alami yang terjadi tidak hanya di suatu tempat, melainkan diseluruh penjuru suatu negara bahkan dunia. Kenaikan harga ini berlangsung secara berkesinambungan dan bisa makin meninggi lagi harga barang tersebut jika tidak ditemukannya solusi pemecahan penyimpangan – penyimpangan yang menyebabkan terjadinya inflasi tersebut.
Dengan kata lain inflasi dapat didefinisikan sebagai kecenderungan dari harga-harga untuk meningkat secara umum dan terus menerus. Dalam wikipedia, inflasi didefinisikan sebagai suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu). Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu.[1]

B.  Teori Inflasi Islam
Menurut para ekonom Islam, inflasi berakibat sangat buruk bagi perekonomian karena empat hal sebagai berikut:
1.    inflasi mengganggu fungsi dari: uang, tabungan (nilai simpan), pembayaran di muka, dan unit penghitungan. Akibat inflasi, orang harus melepaskan diri dari uang dan aset keuangan. Inflasi bisa menyebabkan inflasi lagi (self feeding inflation).
2.    Inflasi melemahkan semangat menabung dan sikap terhadap menabung dari masyarakat (turunnya Marginal Propensity to Save).
3.    Inflasi meningkatkan kecenderungan berbelanja terutama untuk non-primer dan barang mewah (naiknya Marginal Propensity to Consume).
4.    Inflasi mengarahkan investasi non-produktif yaitu penumpukan kekayaan (hoarding) seperti: tanah, bangunan, logam mulia, mata uang asing.nflasi mengorbankan investasi ke arah produktif seperti: pertanian, industrial, perdagangan, transportasi, dan lainnya.

Selain itu, inflasi menimbulkan sejumlah masalah yang berhubungan dengan akuntansi, misalnya:
1.    Inflasi menyebabkan dilemma penilaian terhadap aset tetap dan aset lancar dilakukan dengan metode biaya historis atau metode biaya aktual.
2.    Inflasi menyebabkan permasalahan akuntani dalam hal pemeliharaan modal riil dengan melakukan isolasi keuntungan inflasioner.
3.     Inflasi menyebabkan dibutuhkannya koreksi dan rekonsiliasi operasi (index) untuk mendapatkan kebutuhan perbandingan waktu dan tempat.
Islam tidak mengenal istilah inflasi, karena mata uangnya stabil dengan digunakannya mata uang  dinar dan dirham. Penurunan nilai masih mungkin terjadi, yaitu ketika nilai emas yang menopang nilai nominal dinar itu mengalami penurunan, diantaranya akibat ditemukannya emas dalam jumlah yang besar, tapi keadaan ini kecil sekali kemungkinannya.
Ekonom muslim, Taqiuddin Ahmad ibn al-Maqrizi (1364M – 1441M), yang merupakan salah satu murid Ibnu Khaldun, menggolongkan inflasi dalam dua golongan yaitu inflasi akibat berkurangnya persediaan barang ( Natural inflation) dan inflasi akibat kesalahan manusia(Human Error Inflation).[2]
Inflasi jenis pertama inilah yang terjadi pada zaman Rasulullah dan khulafaur Rasyidin,yaitu karena kekeringan atau peperangan. Sementara itu, Inflasi jenis kedua menurut Al-Maqrizi disebabkan oleh tiga hal. Pertama, korupsi dan administrasi yang buruk. Kedua, pajak berlebihan yang memberatkan petani. Ketiga, jumlah uang yang berlebihan.

1.    Natural Inflation
Natural Inflasi adalah inflasi yang terjadi karena sebab alamiah yang tidak dapat dicegah oleh manusia. Menurut Al-Maqrizi, Inflasi disebabkan oleh turunnya penawaran Agregatif(AS) atau naiknya Permintaan Agregatif(AD).[3]
Untuk menganalisisnya, dapat digunakan perangkat analisis konvensional yaitu persamaan identitas berikut:
MV = PT =Y
 

Dimana:
            M         : Jumlah uang beredar
            V         : Kecepatan peredaran uang
            P          : Tingkat harga
            T          : Jumlah barang dan jasa
            Y         : Tingkat pendapatan nasioanl (GDP)
      Natural inflation dapat diartikan sebagai berikut:
1)        Gangguan terhadap jumlah barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu perekonomian (T). Misalnya  sedangkan M dan V tetap, maka konsekuensinya .
2)        Naiknya daya beli masyarakat secara riil. Misalnya, nilai ekspor lebih besar daripada nilai impor, sehingga secara netto terjadi impor uang yang mengakibatkan  sehingga jika V dan T tetap maka .
Natural inflation dapat dibedakan berdasarkan penyebabnya menjadi dua yaitu:
1.    Uang yang masuk dari luar negeri terlalu banyak karena ekxpor meningkat (X↑) sedangkan impor menurun (M↓) sehingga net export nilainya sangat besar yang mengakibatkan naiknya permintaan agregatif (AD↑).
Keadaan ini pernah terjadi pada masa Umar ibn Khatab, pada masa itu ekportir yang menjual barangnya ke luar negeri membeli barang-barang dari luar negeri (impor) lebih sedikit jumlahnya dari barang yang mereka jual (positive net export). Adanya positive net export akan menjadikan keuntungan yang berupa kelebihan uang yang akan dibawa ke Madinah sehingga pendapatan dan daya beli masyarakat meningkat (AD↑). Naiknya permintaan agregat (AD↑) akan mengakibatkan naiknya tingkat harga (P↑) secara keseluruhan. Untuk mengatasi keadaan ini Umar melarang penduduk Madinah untuk membeli barang-barang atau komoditi selama 2 hari berturut-turut, akibatnya terjadi penurunan permintaan agregatif (AD↓), dan tingkat harga kembali normal.
2.     Turunnya tingkat produksi (AS↓) karena terjadinya paceklik, perang ataupun embargo ekonomi. Masa paceklik ini pernah terjadi pada masa Umar ibn Kahatab yang mengakibatkan kelangkaan gandum yang berdampak pada naiknya tingkat harga-harga (P↑).

2. Human Eror Inflation
Human error inflation adalah inflasi yang terjadi karena kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh manusia sendiri (QS Ar-Rum ayat 41). Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).[4] 
Adapun beberapa penyebabnya di antaranya :
a)   Korupsi dan administrasi yang buruk (corruption and bad administration).
Pengangkatan para pejabat yang berdasarkan suap, nepotisme, dan bukan karena kapabilitas akan menempatkan orang-orang pada berbagai jabatan penting dan terhormat yang tidak mempunyai kredibilitas. Mereka yang mempunyai mental seperti ini, rela menggadaikan seluruh harta milik untuk meraih jabatan, kondisi ini juga akan berpengaruh ketika mereka berkuasa, para pejabat tersebut akan menyalahgunakan kekuasaannya untuk meraih kepentingan pribadi, baik untuk menutupi kebutuhan finansial pribadi atau keluarga atau demi kemewahan hidup. Akibatnya akan terjadi penurunan drastis terhadap penerimaan dan pendapatan Negara.[5]
Korupsi akan mengganggu tingkat harga, karena para produsen akan menaikkan harga jual barangnya untuk menutupi biaya-biaya siluman yang telah mereka keluarkan. Dimasukkannya biaya siluman dalam biaya produksi (cost of goods sold) akan menaikkan total biaya produksi. ATC dan MC menjadi ATC2 dan MC2. Sehingga harga jual menjadi naik dari P menjadi P2. Hal ini menjadi tidak mereflleksikan nilai sumber daya sebenarnya yang digunakan dalam proses produksi.
Harga terdistorsi oleh komponen yang seharusnya tidak ada. Hal ini menyebabkan terjadinya ekonomi biaya tinggi (high cost economy) dan pada akhirnya terjadi inefisiensi alokasi sumber daya yang merugikan masyarakat.
Jika merujuk pada persamaan AS-AD, terlihat korupsi dan administrasi pemerintahan yang buruk menyebabkan kontraksi pada kurva penawaran agregatif .



Selain menyebabkan inefisiensi dan ekonomi biaya tinggi, korupsi dan kelemahan administrasi sangat membahayakan perekonomian yakni terjerat pada spiralling inflation atau hyper inflation.
b)   Pajak yang berlebihan (excessive tax)
Efek yang ditimbulkan oleh pajak yang berlebihan pada perekonomian hampir sama dengan efek yang ditimbulkan oleh korupsi dan administrasi yang buruk yaitu kontraksi pada kurva penawaran agregatif . Namun, jika dilihat lebih jauh, excessive tax mengakibatkan apa yang dinamakan para ekonom dengan efficiency loss atau dead weight loss.

c)    Pencetakan uang untuk menarik keuntungan (Escessive Seignorage).  
Ketika terjadi defisit anggaran baik sebagai akibat dari kemacetan ekonomi, maupun perilaku buruk para pejabat yang menghabiskan uang negara, pemerintah melakukan percetakan uang fulus secara besar-besaran. Ibn al-Maqrizi berpendapat bahwa percetakan uang yang berlebihan akan mengakibatkan naiknya tingkat harga (P↑), menurunnya nilai mata uang secara drastis, akibatnya uang tidak lagi bernilai.
 Menurut al-Maqrizi kenaikan harga komoditas adalah kenaikan dalam bentuk jumlah uang (fulus), sedangkan jika diukur dengan emas (dinar ), harga-harga komoditas itu jarang sekali mengalami kenaikan. Uang sebaiknya dicetak hanya pada tingkat minimal yang dibutuhkan untuk bertransaksi dan dalam pecahan yang mempunyai nilai nominal yang kecil.


[1]Dikutip dari http://clotehkangtop.blogspot.com/2011/03/inflasi-dalam-islam.html , diakses pada hari  Rabu tanggal  07 maret 2012
[2] Karim, Adiwarman A, Ekonomi  Islami: Suatu Kajian Kontemporer , Jakarta : Gema Insani Pers, 2001. hal.67

[3] Karim, Adiwarman A. Ekonomi Islam: Suatu Kajian Ekonomi Makro. IIIT Indonesia. 2002. Hal 67

[4] Dikutip dari www.junedzone.co.cc/2010/03/inflasi-dalam-perspektif-islam.html , diakses hari Rabu 07 Maret 2012
[5] Dikutip dari http://rozalinda.wordpress.com/2010/05/04/inflasi-dalam-perspektif-ekonomi-islam/, diakses  hari  Rabu, Tanggal 07 Maret 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar