Jumat, 08 Maret 2013

Pahala dan Dosa


A.    Pengertian pahala dan dosa
Di dalam hidup ini ada dua ganjaran yang  kita pahami yaitu berupa ganjaran atas perbuatan yang sesuai dengan syariat ataupun sebaliknya. Di sini akan dipaparkan pengertian dari pahala dan dosa.
Konsep pahala dan dosa:
Ø  Setiap perbuatan  manusia yang berbuat kebaikan akan mendapat ganjaran baik di dunia seperti penghargaan atau hadiah dan di beri ganjaran ( pahala)
Ø  Setiap orang yang melakukan perbuatan buruk diberi balasan buruk seperti cemohan atau hukuman dan diberi(dosa)  oleh Allah.
Ø  Pahala diberi atas setiap kebaikan yg kita lakukan contoh: satu kebaikan diganjari 10 – 700 pahala malah mungkin lebih dari itu.
Ø  Pahala & dosa inilah yang akan menentukan keadaan, kedudukan & tempat  manusia di akhirat.
DALIL : Firman Allah Swt SURAH Al-Zalzalah ayat 7
Maksudnya: 
Maka sesiapa berbuat kebajikan seberat zarah, niscaya akan dilihatnya amalnya.

1.      Pengertian pahala
Pahala merupakan ganjaran atau balasan untuk perbuatan yang baik. Hadist Nabi Saw menjelaskan dari Ibnu Abbas yang artinya :” Allah mencatat kebaikan dan keburukan, kemudian menjelaskannya. Barangsiapa ber-himah (niat) kebaiakan kemudian tidak mengerjakannya, maka Allah mencatat baginya kebaikan yang sempurna. Apabila ia berniat kebaikan dan mengerjakannya, Allah membalas 10 kebaikan sampai 700 kali lipat lebih banyak. Dan apabila berniat keburukan, dan tidak mengerjakannya, Allah mencatatnya kebaikan yang sempurna, dan apabila berniat buruk dan mengerjakannya Allah mencatat dengan sutu keburukan. Dan tidak akan rusak di sisi Allah kecuali orang  merusak.”
Di kalangan fukaha(ahli hukum islam), pahala erat kaitannya dengan perbuatan yang wajiib dan sunnah serta perbuatan yang makruh dan haram. Pahala diberikan kepada seseorang yang mengerjakan perbuatan yang wajib  dan sunah atau yang meninggalkan yang haram dann makruh itu karena tunduk dan patuh kepada Allah SWT.
Dikalangan ulama usul fiqih, pahala  berhubungan erat dengan perintah(al-amr) dan larangan (annahy)syari’(Pencipta hukum, allah Swt). Perintah meliputi perbuatan yang  wajib serta sunah dan larangan meliputi perbuatan yang haram serta makruh. Jadi apabila terdapat perintah didalam Al-Quran atau sunah (hadis) uuntuk mengerjakan sesuatu, maka yang mengerjakan akan mendapat pahala. Begitu pula apabila meninggalkan sesuatu yang dilarang oleh Allah Swt dan karyena Allah swt.
Dari segi ilmu kalam (teologi), pahala berkaitan erat dengan masalah baik dan buruk. Pada dasarnya perbuatan yang baik yang  jika dikerjakan maka akan mendapatkan pahala dan perbuatan yang buruk apabila dikerjakan akan mendapat siksa.
Golongan muktazilah mengatakan,” akal mampu mengetahui kebaikan dan keburukan.“ Karena itu, seandainya tidak turun wahyu, maka orang yang berbuat baik akan memdapat pahala, meskipun tidak diketahui gambaran pahala yang akan diperoleh. Namun golongan muktazilah memandang perlu turunnya wahyu, selain penegasan terhadap kemampuan akal manusia, wahyu digunakan untuk mengetahui rincian kebaikan dan pahala tersebut diatas. Golongan ini beranggapan bahwa akal mampu mengetahui baik dan buruuk akan tetapi untuk menentukan ketentuan hukum mutlak diperlukan wahyu.
Adapun golongan Asy’ariyah, yang menganggap akal tidak dapat  mengetahui baik dan buruk, mereka berendapat bahwa ukuran baik dan buruk bagi suatu perbuatan adalah wahyu. Karena  itu pahala akan diberikan oleh Allah SWT menurut ketentuan dalam wahyu tersebut.
Para filsuf memahami pahala sebagai “ kesenangan yang bersifat rohani”. Mereka berpendapat bahwa roh manusia bersifat kekal dan tidak hancur  karena substansinya bersal dari substansi tuhan. Roh adalah cahaya yang dipancarkan tuhan. Selama dalam badan roh, roh tidak memperoleh “ kesenangan” sebenarnya dalam bentuk pengetahuan yang sempurna. Hanya apabila roh tekah terpkisah dari  badan, maka roh baru bisa memperoleh kesenangan itu.

2.      Pengertian Dosa
Dosa merupakan perbuatan yang melanggar hukum, baik hukum agama, hukum adat atau hukum negara. Secara istilah agama dapat di artikan sebagai pelanggaran terhadapa hukum agama. Dalam fiiqih  dosa sangat erar kaitannya dengan siksa(pennderitaan sebagai hukuman). Perkataan dosa berasal dari bahasa sangsekerta, dalam bahasa arab disebut juga az-zanbu, al-ismu atau aljurmu. Menurut  istilah ulama fukaha dosa adalah akibat tidak melaksanakannya perintah Allah Swt yang hukumnya wajib dan mengerjakan larangannya yang hukumannya haram. Jadi  secara umum dosa dapat diartikan sebagai perbuatan yang mengacu kepada perbuatan yang  jahat atau buruk yang dilakukan dengan sadar dan tanpa paksaan, juga mengacu kepada  akibat jahat atau buruk yang dihasilkan oleh perbuatan tersebut.
Menurur para fukaha tidak mengerjakan perbuatan yang wajib atau mengerjakan perbuatan yang haram, berarti melakukan perbuatan dosa atau melakukan perbuatan yang menghsilkan dosa. Dosa sebagai akibat buruk atau jahat, menurut ajaran islam pasti dirasakan oleh pelakunya,bila didunia ini pelakunya belum mendapatkan balasannya, niscaya kelak diakhirat pastia ia akan merasakan sesuatu yang membuatnya menderita atau merasa pahit dan tidak bahagia. Berdasarkan keterangan dalam Al-Quaran , siapa yang dosanya lebih berat dari pahala perbuatan baiknya maka niscaya akan menderita didalam neraka, sedang bila pahala yang lebih  berat dari dosa yang ia lakukan maka ganjarannya adalah surga.

B.     Contoh Pahala dan Dosa
Sering kali  kita melakukan tindakan-tindakan yang terkadang bisa menghasilkan suatu kebaikan bagi diri sendiri juga orang lain, dan tidak terlepas kemungkinan kita juga melakukan perbuatan yang merugikan. Di dalam makalah ini akan menjelaskan perbuatan seperti apa yang mampu menghasilkan ganjaran yang baik juga perbuatan apa saja bisa menjerumuskan kita kedalam lembah azab yang menyakitkan. Perbuatan ini akan tertuang dari contoh perbuatan pahala dan dosa.
a.      Contoh- contoh perbuatan Pahala
Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda, "Barang siapa menyeru kepada petunjuk (kebenaran dan kebaikan), maka baginya pahala seperti pahala yang di dapat oleh orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan, barang siapa yang menyeru kepada kesesatan, maka baginya dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun dosa mereka." (HR Muslim)
Jadi, dari hadis di atas terkandung pengertian sebagai berikut.
1. Orang yang menjadi penyebab dilakukannya suatu perbuatan, dan orang yang melakukan perbuatan tsb mempunyai nilai yang sama, baik dalam pahala maupun dosa.
2. Seorang muslim harus memperhatikan akhir dari segala sesuatu dan nilai-nilai amalnya. Sehingga, dia akan berusaha berbuat baik agar menjadi suri teladan yang baik.
3. Orang muslim hendaklah menghindari seruan-seruan yang tidak baik dan menjauhi bergaul dengan orang (lingkungan) yang tidak baik, sebab ia ikut bertanggung jawab terhadap apa yang dikerjakan.
4. Orang yang menjadi penyebab dikerjakannya suatu perbuatan baik akan memperoleh pahala yang berlipat ganda, sebagaimana penyebab dikerjakannya perbuatan jahat juga akan mendapat siksaan yang berlipat ganda.
Dari Anas r.a. berkata bahawa ada tujuh macam pahala yang dapat diterima seseorang itu selepas matinya.
1)      Sesiapa yang mendirikan masjid maka ia tetap mendapat pahalanya selagi masjid itu digunakan oleh orang untuk beramal ibadat di dalamnya.
2)      Sesiapa yang mengalirkan air sungai selagi ada orang yang minum daripadanya.
3)      Sesiapa yang menulis mushaf dan ia akan mendapat pahala selagi ada orang yang membacanya.
4)      Orang yang menggali perigi selagi ada orang yang menggunakannya. Sesiapa yang menanam tanam-tanaman selagi ada yang memakannya baik dari manusia atau burung.
5)       Mereka yang mengajarkan ilmu yang berguna selama ia diamalkan oleh orang yang mempelajarinya.
6)      Orang yang meninggalkan anak yang soleh yang mana ianya selalu mendoakan kedua orang tuanya dan beristighfar baginya.
7)      anak yang selalu diajari ilmu Al-Qur'an maka orang yang mengajarnya akan mendapat pahala selagi anak itu mengamalkan 89 ajaran-ajarannya tanpa mengurangi pahala anak itu sendiri.
Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah S.A.W. telah bersabda : "Apabila telah mati anak Adam itu, maka terhentilah amalnya melainkan tiga macam : Sedekah yang berjalan terus (Sedekah Amal Jariah) Ilmu yang berguna dan diamalkan. Anak yang soleh yang mendoakan baik baginya.
Amal perbuatan yg bisa menebus dosa-dosa dan menambah pahala yg bersumber dari hadits-hadits Rasul yaitu:
a)      Taubat “Barangsiapa bertaubat sebelum terbitnya matahari dari arah barat niscaya Allah akan menerima taubatnya.” “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menerima taubat seorang hamba selama belum meregang ajalnya.
b)      Dzikir kepada Allah “Maukah kalian aku beritahu tentang suatu perbuatan yg terbaik bagimu tersuci bagi Tuhanmu tertinggi dalam derajatmu lbh baik daripada menafkahkan emas dan perak serta lbh mulia daripada peperangan dgn musuhmu?” Mereka menjawab “Tentu kami mau.” Beliau meneruskan “Yaitu dzikrullah.
c)      Berbuat kebajikan dan menunjukkan pada perbuatan baik “Setiap kebajikan merupakan sedekah dan orang yg menunjukkan kepada kebajikan mendapat pahala seperti orang yg melaksanakan kebaikan tersebut.
d)     Dakwah kepada jalan Allah “Barangsiapa mengajak kepada hidayah maka baginya seperti pahala orang yg mengikuti ajakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.
e)      Amar ma’ruf nahi mungkar “Barangsiapa melihat kemungkaran hendaknya dia mengubah-nya dgn tangannya jika tidak mampu maka dgn lisannya dan apabila tidak mampu juga maka dgn hatinya yg demikian itu adl selemah-lemahnya iman.suatu perbuatan yg jika kalian lakukan niscaya kalian saling menyayangi? Sebarkan salam di antara kalian.
f)       Cinta krn Allah “Sesungguhnya Allah berfirman pada hari Kiamat Manakah hambaKu yg saling mencintai krn keagunganKu hari ini Aku menaunginya dalam naunganKu pada hari yg tiada naungan kecuali naunganKu.” Mengunjungi orang sakit “Setiap muslim yg mengunjungi sesama muslim lain yg sakit pada pagi hari niscaya ada tujuh puluh ribu malaikat mendoakannya hingga sore hari jika ia mengun-junginya pada saat petang niscaya ada tujuh puluh ribu malaikat mendoakannya hingga pagi hari dan baginya buah-buahan di Sur
a.      Contoh Dosa
Dosa ada dua macam, yaitu dosa kecil dan dosa besar. Dosa kecil adalah pelanggaran hukum atas perbuatan yang tidak dirinci bahwa pelanggarannya adalah dosa besar, seperti berbohong dan melihat sesuatu yang dilarang. Sedangkan dosa besar adalah Perbuatan maksiat yang ditentukan hukuman di dunia oleh al-Quran atau hadis, dan diberi ancaman azab di akhirat.contohnya berzina, menyekutukan Allah, menyakiti orang tua, bersaksi palsu dan sebagainya.

DOSA KECIL MENJADI DOSA BESAR
Kita tidak boleh memandang endah tak endah terhadap dosa-dosa kecil yang kita lakukan kerana ia dapat juga berkembang dan berubah menjadi dosa besar dengan adanya berbagai sebab iaitu:
1)       Kerana dosa kecil itu dikerjakan terus-menerus atau dikekalkan sahaja mengerjakannya tanpa ada hentinya.Seperti halnya titisan air yang berulang kali jatuh di atas batu, lama kelamaan tentulah berbekas pula.Tetapi tidak akan berbekas jika batu itu dituangi air berapa pun banyaknya dengan sekali tuang! Dalam soal amal baik, Rasulullah S.A.W pernah bersabda yang bermaksud: "Sebaik-baik amal itu ialah yang terkenal atau yang paling rutin mengerjakannya, sekalipun hanya sedikit. (Riwayat Bukhari dan Muslim)
2)      Kerana adanya anggapan kecil pada dosa yang dilakukannya. Jika seseorang menganggap dosa yang dilakukannya besar, maka disisi Allah dianggap kecil, dan jika seseorang itu menganggap dosa yang dilakukannya kecil, maka disisi Allah dipandang besar. Sebabnya ialah kerana anggapan besar itu timbul dari hati yang 94 sebenarnya tidak suka melakukannya atau ingin menjauhinya. Kalau akhirnya dosa itu dikerjakan juga, hal ini berlaku sebab hebatnya godaan dan lain sebagainya. Ketidaksukaan melakukan inilah yang menyebabkan dosa yang dikerjakan sangat sedikit meninggalkan bekas dalam hatinya. Sebaliknya jika dosa itu dianggap kecil oleh yang melakukannya, tidak lain sebabnya ialah kerana hatinya amat condong melakukannya. Kecondongan inilah yang menyebabkan dosa yang dikerjakanya sangat berbekas dalam hatinya. Selain itu, sikap memandang kecil akan dosa mempunyai kesan negatif. Orang menjadi tidak takut lagi untuk berbuat dosa dan kurang peduli terhadap dosa.
3)       Kerana dosa kecil itu dilakukan dengan senang hati dan merasa nikmat. Sebabnya ialah kerana dosa yang dikerjakan dengan gembira dan nikmat, ia akan terbuku di dalam batin, bahkan juga akan menimbulkan kehitaman yang amat sangat dalam kalbu. Tidak ada rasa penyesalan dan selalu ingin mengulanginya kembali. Perasaan berbahgia di dalam dosa satu hal yang sangat buruk.
4)      Kerana dosa kecil itu dilakukan dengan perasaan aman/bebas dari balasan Allah. Sebetulnya perbuatan apa pun samada besar atau kecil tidak mungkin terlepas dari pengawasan Allah. Allah teramat teliti mengawasi segala sesuatu. Hanya orang yang bodoh/sesat sahaja yang merasa dirinya aman/bebas dari pengawasan Allah.Walaupun(nampaknya) aman dari balasan Allah, barangkali kerana Allah memang menangguhkan balasan itu sebagai kemurkaanNya, agar dengan demikian makin banyak lagi dosa yang dikerjakannya dan akan dibalas di akhirat kelak. Perasaan aman dari pengawasan/balasan Allah, meyebabkan seseorang itu berterusan berkecimpung dalam dosa dan noda dan semakin berani melakukanya.
5)      Kerana dosa kecil itu diberitahukan atau diperlihatkan kepada orang lain. Adakalanya dosa itu dilakukan dengan tidak diketahui orang lain, tetapi kemudian diberitahukan kepada orang lain. Dan ada kalanya pula waktu melakukannya memang di hadapan orang lain. Orang yang demikian telah melakukan dua macam pelanggaran. Dosanya kerana melakukan kesalahan dan dosa memperlihatkan kesalahan kepada orang. Sebenarnya dosa yang dikerjakan menjadi rahsia dirinya sendiri sebab hanya dia sendiri dan Allah yang mengetahui. Begitu juga dosa yang sebenarnya dapat dilakukan dengan diam-diam dengan tidak diketahui orang lain, mengapa dilakukan di muka orang lain?Jadi pelanggaranya yang pertama, kerana ia melakukan kemaksiatan itu dan pelanggarannya yang kedua kerana cara ia melakukan dosanya itu dapat menggerakkan keinginan buruk orang lain untuk menirunya. Dengan begitu, satu perbuatan kemaksiatan menyebabkan dua bentuk dosa. Itulah sebabnya dosa kecil berkembang menjadi dosa yang besar.
6)       Kerana dosa kecil itu dilakukan oleh orang alim yang mempunyai banyak pengikut.Orang yang alim mempunyai pengaruh besar kepada para pengikutnya.Kerana itu  dosa yang dikerjakannya kemungkinan besar akan diikuti pula oleh para pengikutnya. Inilah yang menyebabkan dosa kecil tadi berubah menjadi dosa besar. Dalam sebuah hadis disebutkan: "Siapa menciptakan sunnah yang buruk, dia menanggung dosa atas perbuatannya itu dan juga dosa orang lain yang meniru melakukannya tanpa dikurangi dosa orang lain itu sedikit pun" Tetapi sebagaimana berlipat gandanya dosa yang dilakukan oleh orang alim itu, maka berlipat ganda pulalah kebaikan yang dibuat olehnya,apabila banyak orang yang mengikut dan melanjutkan amal baiknya itu.

Yang termasuk dosa besar yaitu :
SYIRIK
Syirik atau menyekutukan Allah adalah sesuatu yang amat diharamkan dan secara mutlak ia merupakan dosa yang paling besar. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abi Bakrah bahwasanya Rasulullah Swt bersabda :  “ Maukah aku kabarkan kepada kalian dosa yang paling besar ( tiga kali ) ? mereka menjawab : ya, wahai Rasulullah ! beliau bersabda : menyekutukan Allah “ (muttafaq ‘alaih, Al Bukhari hadits nomer : 2511)
Setiap dosa kemungkinan diampuni oleh Allah , kecuali dosa syirik, ia memerlukan taubat secara khusus, Allah berfirman :
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.”(Qs.An-Nisa’:48)
 barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia Telah berbuat dosa yang besar.Di antara macam syirik adalah syirik besar. Syirik ini menjadi penyebab keluarnya seseorang dari agama Islam, dan orang yang bersangkutan, jika meninggal dalam keadaan demikian, akan kekal di dalam neraka. Di antara kenyataan syirik yang umum terjadi di sebagian besar negara-negara Islam adalah:

MENYEMBAH KUBURAN
Yakni kepercayaan bahwa para wali yang telah meninggal dunia bisa memenuhi hajat, serta bisa membebaskan manusia dari berbagai kesulitan. Karena kepercayaan ini . mereka lalu meminta pertolongan dan bantuan kepada para wali yang telah meninggal dunia, padahal Allah Swt berfirman :
 “ Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia ( Al Isra’ :23)
Termasuk dalam kategori menyembah kuburan adalah memohon kepada orang-orang yang telah meninggal, baik para nabi, orang-orang shaleh, atau lainnya untuk mendapatkan syafaat atau melepaskan diri dari berbagai kesukaran hidup. Padahal Allah SWt berfirman :
“ Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi[1104]? apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).”(Qs.An-Naml:62)
[1104]  yang dimaksud dengan menjadikan manusia sebagai khalifah ialah menjadikan manusia berkuasa di bumi.
            Sebagian mereka, bahkan membiasakan dan mentradisikan menyebut nama syaikh atau wali tertentu , baik dalam keadaan berdiri, duduk, ketika melakukan sesuatu kesalahan, dalam setiap situasi sulit, ketika di timpa petaka, musibah atau kesukaran hidup.
            Di antaranya ada yang menyeru : “ Wahai Muhammad.” Ada lagi yang menyebut : “ Wahai Ali”. Yang lain lagi menyebut : “ Wahai Jailani”. Kemudian ada yang menyebut : “ Wahai Syadzali”. Dan yang lain menyebut : “ Wahai Rifai. Yang lain lagi : “ Al Idrus sayyidah Zainab, ada pula yang menyeru : “ Ibnu ‘Ulwan dan masih banyak lagi. Padahal Allah telah menegaskan:
            “ Sesungguhnya orang-orang yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk ( yang lemah ) yang serupa juga dengan kamu” ( Al A’raaf : 194)
            Sebagian penyembah kuburan ada yang berthawaf (mengelilingi) kuburan tersebut, mencium setiap sudutnya, lalu mengusapkannya ke bagian-bagian tubuhnya. Mereka juga menciumi pintu kuburan tersebut dan melumuri wajahnya dengan tanah dan debu kuburan. Sebagian bahkan ada yang sujud ketika melihatnya, berdiri di depannya dengan penuh khusyu’, merendahkan dan menghinakan diri seraya mengajukan permintaan dan memohon hajat mereka. Ada yang meminta sembuh dari sakit , mendapatkan keturunan, digampangkan urusannya dan tak jarang di antara mereka yang menyeru : Ya sayyidi aku datang kepadamu dari negeri yang jauh maka janganlah engkau kecewakan aku. Padahal Allah SWt berfirman :
            “ Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tidak dapat memperkenankan (do’anya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do’a mereka”. ( Al Ahqaaf : 5)
            Nabi SAW bersabda :“Barang siapa mati dalam keadaan menyembah sesembahan selain Allah  niscaya akan masuk neraka( HR Bukhari , fathul bari : 8/176)
            Sebagian mereka, mencukur rambutnya di pekuburan, sebagian lagi membawa buku  yang berjudul : Manasikul hajjil masyahid ( tata cara ibadah haji di kuburan keramat). Yang mereka maksudkan  dengan  masyahid adalah kuburan kuburan para wali. Sebagian mereka mempercayai bahwa para wali itu mempunyai kewenangan  mengatur alam semesta, dan mereka bisa memberi madharat dan manfaat. Padahal Allah berfirman :
            “ Jika Allah menimpakan sesuatu kemadharatan kepadamu , maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu maka tidak ada yang dapat menolak karuniaNya” ( Yunus : 107)
            Termasuk syirik adalah bernadzar untuk selain Allah seperti yang dilakukan oleh sebagian orang yang bernadzar memberi lilin dan lampu untuk para ahli kubur. Termasuk syirik besar adalah menyembelih binatang untuk selain Allah.padahal Allah berfirman :
            “ Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah” ( Al Kutsar : 2)

            Maksudnya berkurbanlah hanya untuk Allah dan atas namaNya. Rasulullah Saw  bersabda : “ Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah”( HR Muslim, shahih Muslim No : 1978)
            Pada binatang sembelihan itu terdapat dua hal yang diharamkan. Pertama : penyembelihannya untuk selain Allah, dan kedua : penyembelihannya dengan atas nama selain Allah. Keduanya menjadikan daging binatang sembelihan itu tidak boleh dimakan. Dan termasuk penyembelihan jahiliyah- yang terkenal di zaman kita saat ini- adalah menyembelih untuk jin. Yaitu manakala mereka membeli rumah atau membangunnya, atau ketika menggali sumur mereka menyembelih di tempat tersebut atau di depan pintu gerbangnya sebagai sembelihan (sesajen) karena takut dari gangguan jin ([1]).
            Di antara contoh syirik besar- dan hal ini umum dilakukan – adalah menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah atau sebaliknya. Atau kepercayaan bahwa seseorang memiliki hak dalam masalah tersebut selain Allah Y. Atau berhukum kepada perundang-undangan jahiliyah secara sukarela dan atas kemauannya. Seraya menghalalkannya dan kepercayaan bahwa hal itu dibolehkan . Allah menyebutkan  kufur besar ini dalam firmanNya :

“ Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah”. ( At Taubah : 31)
           
Ketika Adi bin hatim mendengar ayat tersebut yang sedang dibaca oleh Rasulullah Saw ia berkata : “ orang-orang itu tidak menyembah mereka. Rasulullah   saw dengan tegas bersabda :
“ Benar, tetapi meraka ( orang-orang alim dan para rahib itu ) menghalalkan untuk mereka apa yang diharamkan oleh Allah , sehingga mereka menganggapnya halal. Dan mengharamkan atas mereka apa yang dihalalkan oleh Allah, sehingga mereka menganggapnya sebagai barang haram, itulah bentuk ibadah mereka kepada orang-orang alim dan rahib([2]) .
            Allah menjelaskan, di antara sifat orang-orang musyrik adalah sebagaimana dalam firmanNya :

            “ Dan meraka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar(agama Allah)”. ( At Taubah : 29).

] قُلْ أَرَأَيْتُم مَّا أَنزَلَ اللّهُ لَكُم مِّن رِّزْقٍ فَجَعَلْتُم مِّنْهُ حَرَامًا وَحَلاَلاً قُلْ آللّهُ أَذِنَ لَكُمْ أَمْ عَلَى اللّهِ تَفْتَرُون[َ (59) سورة يونس
            “ Katakanlah : Terangkanlah kepadaku tentang rizki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal. Katakanlah : Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada- adakan kedustaan atas  Allah? ( Yunus : 59).
            Temasuk syirik yang banyak terjadi adalah sihir, perdukunan dan ramalan. Adapun sihir, ia termasuk perbuatan kufur dan di antara tujuh dosa besar yang menyebabkan kebinasaan. Sihir hanya mendatangkan bahaya dan sama sekali tidak bermanfaat bagi manusia. Allah berfirman :

            “ Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi madharat kepadanya dan tidak memberi manfaat ( Al Baqarah : 102).
           
            “ Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang” ( Thaha : 69)
            Orang yang mengajarkan sihir adalah kafir. Allah SWT berfirman :

} وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيْاطِينَ كَفَرُواْ يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولاَ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ [ (102) سورة البقرة
“ Padahal Sulaiman tidak kafir(tidak mengerjakan sihir) hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir ( mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan ( sesuatu kepada seseorangpun) sebelum mengatakan : “ sesungguhnya kami hanya cobaan( bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. ( Al Baqarah : 102).
Hukuman bagi tukang sihir adalah dibunuh, pekerjaannya haram dan jahat. Orang-orang bodoh, sesat dan lemah iman pergi kepada para tukang sihir untuk berbuat jahat kepada orang lain atau untuk membalas dendam kepada mereka. Di antara manusia ada yang melakukan perbuatan haram, dengan mendatangi tukang sihir dan memohon pertolongan padanya agar terbebas dari pengaruh sihir yang menimpanya. Padahal seharusnya ia mengadu dan kembali kepada Allah, memohon kesembuhan dengan KalamNya, seperti dengan Mu’awwidzat ( surat Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas) dan sebagainya.
Dukun dan tukang ramal itu memanfaatkan kelengahan orang-orang awam (yang minta pertolongan padanya) untuk mengeruk uang mereka sebanyak-banyaknya. Mereka menggunakan banyak sarana untuk perbuatannya tersebut. Di antaranya dengan membuat garis di pasir, memukul rumah siput, membaca (garis) telapak tangan,cangkir, bola kaca, cermin, dsb.
Jika sekali waktu mereka benar, maka sembilan puluh sembilan kalinya hanyalah dusta belaka. Tetapi tetap saja orang-orang dungu tidak mengingat, kecuali waktu yang sekali itu saja. Maka mereka pergi kepada para dukun dan tukang ramal untuk mengetahui nasib mereka di masa depan, apakah akan bahagia, atau sengsara, baik dalam soal pernikahan, perdagangan, mencari barang-barang yang hilang atau yang semisalnya.
Hukum orang yang mendatangi tukang ramal atau dukun, jika mempercayai terhadap apa yang dikatakannya adalah kafir, keluar dari agama Islam. Rasulullah Saw bersabda :
            “ Barang siapa mendatangi dukun dan tukang ramal, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, sungguh dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad”.( HR Ahmad: 2/ 429, dalam shahih jami’ hadits, no : 5939)
            Adapun jika orang yang datang tersebut tidak mempercayai bahwa mereka mengetahui hal-hal ghaib, tetapi misalnya pergi untuk sekedar ingin tahu, coba-coba  atau sejenisnya, maka ia tidak tergolong orang kafir, tetapi shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari. Rasulullah r bersabda :
            “Barang siapa mendatangi tukang ramal, lalu ia menanyakan padanya tentang sesuatu, maka tidak di terima shalatnya selama empat puluh malam” (Shahih Muslim : 4 / 1751).
Ini masih pula harus dibarengi dengan tetap mendirikan shalat (wajib) dan bertaubat atasnya.
AKIBAT DARI DOSA
1)      Masyarakat akan berada dalam kemunduran, kesesatan, dan lemah jika sebahagian                   besar masyarakat terdedah dengan dosa.
2)      Kehidupan seseorang yang melakukan dosa  diselubungi ketakutan dan kebimbangan.
3)       Tidak akan dipandang mulia oleh masyarakat.
Sebab-sebab mendorong kearah melakukan dosa:
a)      Kejahilan mereka tentang ajaran agama sehingga tidak dapat membezakan yang hak(benar) dengan batil (salah).
b)      Dipengaruhi oleh nafsu.
c)      Tidak mempercayai hari pembalasan dan hari kebangkitan semula yang akan membalas setiap perlakuan manusia semasa di dunia
d)     Kesempitan hidup seperti kemiskinan.
e)      Tamak haloba terhadap harta benda dan kuasa.
Langkah- langkah  menjauhi dosa yaitu:
~        Memperbanyakkan amalan sunat bagi mendekatkan diri kepada Allah swt
~        Meninggalkan kejahatan  dan kemungkaran serta menunjukan sikap tidak menyukainya
~        Menginsafi azab yang akan ditempoh oleh org yg melakukan dosa di akhirat
~        Menambah ilmu pengetahuan  agama dgn menghadiri majlis ilmu, membaca buku atau melayari laman web yg berfaedah
~        Mengelakkan diri daripada bergaul dgn orang yg  melakukan kejahatan
~        Menjauhi tempat maksiat yg boleh mendorong melakukan dosa

 Solusi Menghindari Dosa

a)      Anggaplah besar dosamu. Abdullah bin Mas’ud Ra berkata, “orang beriman melihat dosa-dosanya seolah-olah IA duduk di bawah gunung, IA takut gunung tersebut menimpanya. Sementara orang yang fajir (suka berbuat dosa) dosanya seperti lalat yang lewat diatas hidungnya.”
b)       Janganlah meremehkan dosa. Rasulullah SAW bersabda, “ Janganlah kamu meremehkan dosa, seperti kaum yang singgah di perut lembah. Lalu seseorang datang membawa ranting Dan seorang lainnya lagi datang membawa ranting sehingga mereka dapat menanak roti mereka. Kapan saja orang yang melakukan suatu dosa menganggap remeh suatu dosa, maka itu akan membinasakannya.” (HR Ahmad dengan sanad yang hasan).
c)      Janganlah muhajarah (menceritakan dosa).Rasulullah SAW bersabda: “ semua umatku dimaafkan kecuali muhajirun (orang yang berterus terang). Termasuk muhajarah adalah seseorang yang melakukan suatu amal (keburukan) pada malam Hari kemudian pada pagi harinya IA membeberkannya, padahal Allah telah menutupinya, IA berkata, “wahai fulan, tadi malam aku telah melakukan demikian Dan demikian.” Pada malam harinya Tuhannya telah menutupi kesalahannya tetapi pada pagi harinya IA membuka tabir Allah yang menutupinya.” (HR Bukhari Dan Muslim) .
d)     Taubat nasuha yang tulus. Rasulullah SAW bersabda, “Allah lebih bergembira dengan taubat hamba-Nya tatkala bertaubat daripada seorang diantara kamu yang berada di atas kendarannya di padang pasir yang tandus. Kemudian kendaraan itu hilang darinya, padahal di atas kendaraan itu terdapat makanan Dan minumannya. Ia sedih kehilangan hal itu, lalu IA menuju pohon Dan tidur di bawah naungannya dalam keadaan bersedih terhadap kendaraannya itu. Saat IA dalam keadaan seperti itu tiba-tiba kendaraannya muncul di dekatnya, lalu IA mengambil tali kendalinya.Kemudian IA berkata karena sangat bergembira, “Ya Allah Engkau adalah hambaku Dan aku adalah Tuhanmu. Ia salah ucap karena sangat bergembira. “
(HR Bukhari Dan Muslim).
e)      Jika dosa berulang, maka ulangi bertaubat. Ali bin Abi Thalib Ra. Berkata, “Sebaik-baik kalian adalah setiap orang yang diuji (dengan dosa) IA bertubat. Ditanyakan, “Jika IA mengulangi lagi?” Ia menjawab, “Ia beristighfar kepada Allah DA bertubat.” Ditanyakan, “Jika IA kembali berbuat dosa?”
Ia menjawab, “Ia beristighfar kepada Allah Dan bertaubat.” Ditanyakan lagi “Sampai kapan?” Dia menjawab, “ Sampai setan berputus ASA.”
f)       Jauhi faktor-faktor penyebab kemaksiatan. Orang yang bertubat harus menjauhi situasi Dan kondisi yang biasa IA temui pada saat melakukan kemaksiatan serta menjauh darinya secara keseluruhan Dan sibuk dengan selainnya. Rasululah SAW beristighfar kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali ( dalam hadits lain 100 kali).
g)      Melakukan kebajikan setelah keburukan. Rasulullah SAW bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, Dan iringilah keburukan dengan kebajikan maka kebajikan itu akan menghapus keburukan tersebut, serta perlakukanlah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR Ahmad Dan Tirmidzi menilai hadits ini hasan sahih)
h)       Merealisasikan tauhid.  Rasulullah SAW bersabda, “Allah ‘azza WA jalla berfirman (dalam hadits qudsi), ‘Barangsiapa yang emlakukan kebajikan maka IA mendapatlan pahala sepuluh kebajikan Dan Aku tambah Dan barangsiapa yang melakukan keburukan, maka balasannya satu keburukan yang sama, atau diampuni dosanya. Barangsiapa yang mendekat kepadaKu sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta Dan barangsiapa yang mendekat kepadaKu sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa, barangsiapa yang datang kepadaKu dengan berjalan, maka Aku datang kepadanya dengan berlari. Barangsiapa yang menemuiku dengan dosa sepenuh bumi tanpa menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun, maka Aku menemuinya dengan maghfirah yang sama.” (HR Muslim Dan Ahmad)
i)        Jangan berpisah dengan orang-orang yang baik
Jangan cela orang lain karena perbuatan dosanya.  Rasulullah SAW menceritakan kepada para sahabat bahwasanya seseorang berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan.” Allah SWT berkata, “Siapakah yang bersumpah atas namaKu bahwa Aku tidak mengampuni si Fulan? Sesungghnya Aku telah mengampuni dosanya Dan Aku telah menghapus amalnya.” (HR Muslim)



([1] )  lihat, taisirul Azizil Hamid , hal : 158.
([2])   Hadits riwayat Al Baihaqi, As sunanul Kubra : 10/ 116, Sunan At Turmudzi no : 3095, Al Albani menggolongkannya dalam hadits hasan. lihat ghayatul muram: 19.

2 komentar:

  1. kak. boleh tanya. apa hikmah memahami pahala dan dosa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita bisa berhati hati saat akan melakukan sesuatu

      Hapus