Kamis, 20 Desember 2012

Teori Penawaran Islami


PEMBAHASAN[1]

A.                Total Cost dan Marginal Cost
Fungsi total cost menunjukan, untuk setiap kombinasi input dan untuk setiap tingkat output, minimum total cost yang muncul adalah TC=TC(r,w,q). Meskipun fungsi total cost menggambarkan secara menyeluruh biaya yang harus dikeluaran, namun akan lebih memudahkan dalam kaitannya dengan kurva permintaan, bila analisis biaya dilakukan pada biaya per unit. Ada dua konsep biaya per unit yang dikenal :[2]
1.                  Average Cost
Fungsi average total cost atau average cost adalah biaya per unit atau dihitung dengan rumus total cost dibagi dengan jumlah output yang dihasilkan. Secara matematis ditulis:
ATC = ATC (r,w,q) = TC (r,w,q) / q
2.                  Marginal Cost
Fungsi marginal cost adalah tambahan biaya yang muncul untuk setiap tambahan output yang dihasilkan atau dihitung dengan rumus perubahan total biaya dibagi perubahan output. Secara matematis ditulis :
MC = MC (r,w,q) = δTC (r,w,q)/ δq
Jadi fungsi total cost diturunkan dari fungsi total produksi, dan fungsi marginal cost diturunkan dari fungsi total cost. Begitu pula dengan fungsi average cost diturunkan dari fungsi total cost. Tabel berikut ini memberikan ilustrasi numerik dari hubungan komponen-komponen tersebut.[3] Fixed cost of capital diasumsikan $ 30/jam, dan biaya variabel yaitu biaya per unit tenaga kerja adalah $ 10/jam.


L
Q
FC
VC
TC
AFC
AVC
ATC
MC*
0
0
30
0
30
--

1
4
30
10
40
7.50
2.50
10.00
2.50
2
14
30
20
50
2.14
1.43
3.57
1.0
3
27
30
30
60
1.11
1.11
2.22
0.77
4
43
30
40
70
0.70
0.93
1.63
0.63
5
58
30
50
80
0.52
0.86
1.38
0.67
6
72
30
60
90
0.42
0.83
1.25
0.71
7
81
30
70
100
0.37
0.86
1.23
1.11
8
84
30
80
110
0.36
0.95
1.31
3.33



















Kurva marginal cost akan memotong dari bawah kurva average total cost pada titik minimalnya. Titik Q2 adalah jumlah output pada saat VC mencapai titk minimalnya yang juga adalah persinggungan kurva VC dengan rental cost per unit ( r ). Titik Q3 adalah jumlah output pada saat AVC mencapai titik minimlanya yang juga titik di mana kurva MC memotong dari bawah kurva ATC. Titik Q1 adalah jumlah output di mana kurva MC mencapai titik minimalnya.

B.                 Marginal Cost dan Kurva Penawaran
Dalam jangka pendek perusahaan akan memaksimalkan labanya dengan memilih jumlah output di mana harga sama dengan marginal cost, selama tingkat harga tersebut lebih besar daripada nilai minimal biaya variabel rata-rata (average variabel cost, AVC). Jika kedua keadaan tersebut terpenuhi, maka itulah kurva penawaran.
Untuk setiap tingkat harga di bawah minimum AVC, jumlah yang ditawarkan adalah nihil. Pada tingkat harga sama dengan AVC, jumlah yang ditawarkan adalah Q2. Untuk setiap tingkat harga di atas AVC, jumlah yang ditawarkan digambarkan oleh kurva MC. Misalnya, pada tingkat harga sama dengan ATC, jumlah yang ditawarkan adalah Q3. Jadi kurva penawaran adalah kurva marginal cost yang di atas AVC.
Perhatikanlah kurva penawaran, yaitu kurva marginal cost yang dicetak tebal. Selisih antara kurva ATC dan kurva AVC yang digambarkan dengan celah di antara kedua kurva tersebut, menggambarkan AFC (average fixed cost). Sekarang perhatikanlah kurva penawaran yang berada di antara kurva ATC dan AVC. Untuk setiap tingkat harga di atas AVC, namun di bawah ATC (yaitu antara output Q2 dan Q3), berarti perusahaan mengalami kerugian setiap output yang dijual karena harga lebih kecil dibanding ATC.

















Meskipun harga lebih kecil dibanding ATC, bagi perusahaan lebih baik untuk tetap menjual outputnya karena pada tingkat harga tersebut perusahaan telah mampu membayar AVC nya. Kerugian yang masih terjadi adalah sebesar AFC nya. Ingatlah bahwa FC adalah biaya tetap yang harus dibayar perusahaan apakah perusahaan berproduksi atau tidak berproduksi. Nah, kerana AFC tetap akan muncul berapapun jumlah output yang diproduksi, maka lebih baik bagi perusahaan untuk memproduksi output sejumlah Q2 sampai dengan Q3. Dengan demikian, perusahaan berharap memantapkan keberadaan produknya di pasar. Bila kemudian tingkat harga melampaui ATC, perusahaan ini akan membukukan laba.
Bagaimana bila perusahaan memilih untuk tidak berproduksi bila harga di bawah ATC? Kerugian perusahaan akan bertambah besar :
1)                  Perusahaan harus tetap menanggung AFC
2)                  Perusahaan tidak mempunyai kegiatan operasi yang berarti para pelaksana perusahaan tidak mempunyai pendapatan. Jadi sebagai pemilik perusahaan, ia memang tidak bagi hasil dari modal penyertaannya (dividen), namun sebagai pelaksana perusahaan ia tetap mendapat pendapatan berupa upah kerja bila tetap berproduksi. Sebaliknya jika perusahaan tidak berproduksi, maka ia akan kehilangan bagi hasil sebagai pemilik dan juga kehilangan upah kerja sebagai pelaksana.

C.                Producer Surplus
Selisih antara total revenue dengan total variable cost disebut producer surplus atau quasi rent. Producer surplus dapat dihitung dengan dua cara :
Secara sistematis, total revenue adalah hasil kali P*Q. Sedangkan total variable cost adalah hasil kali dari AVC dengan Q. Selisih antara keduanya digambarkan dengan segi empat yang diarsir yaitu hasil kali antara (P-AVC) dengan Q. Inilah yang disebut producer surplus. Secara sistematis ditulis:
Produser surplus          =  TR – TVC
                                    =  (P x Q) – (AVC x Q)
                                    =  (P – AVC) x Q












[1] Karim, Adiwarman A (2003), Ekonomi Mikro Islam, Karim Business Consulting : Jakarta h. 127-131
[2] Penjelasan matematis dapat dilihat di Walter Nicholson. Microeconomic Theory: Basic Principles and Extension 6th ed. (New York: The Dryden Press, 1995).
[3] Penjelasan numerik dapat dilihat di Robert Frank. Microeconomics and Behavior 2th ed. (New York: Mc Graw Hill, 1994)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar