Senin, 25 November 2013

Perbedaan Postulat/Prinsip dan Karakteristik Akuntansi Konvensional dan Akuntansi Islam

BAB I
PENDAHULUAN

A.                Latar Belakang Masalah
Kewajiban melaksanakan pembukuan (akuntansi) yang tertuang dalam salah satu pernyataan Allah (QS, 2:282), menunjukkan betapa pentingnya akun-tansi bagi masyarakat Muslim. Fenomena akuntansi syari’ah diharapkan dapat mewakili kebutuhan akan laporan keuangan yang benar-benar jujur, adil, dan dapat dipercaya kerena laporan keuangan akuntansi syari’ah berbasiskan pada syari’ah, dan syari’ah sendiri memiliki tujuan mulia yakni “menciptakan kemaslahatan bagi umat manusia”. Dengan demikian, tepat kiranya bila prinsip-prinsip akuntansi syari’ah dapat dijadikan solusi alternatif dalam menjaga akuntabilitas laporan keuangan
Banyaknya lembaga keuangan Islam yang telah berkembang di dunia, menimbulkan berbagai wacana mengenai bagaimana seharusnya pencatatan dalam keuangan dan akuntansi dalam lembaga keuangan Islam itu dibuat dan apakah akuntansi yang ada sekarang telah mampu mewakili dari tujuan dalam operasional lembaga keuangan Islam. Dalam Accounting Postulate and Principles From an Islamic Perspective (Review of Islamic Economics) oleh Eltegani Abdulgader Ahmed mencoba untuk mencari kesesuaian antara postulat dan prinsip akuntansi yang berlaku saat dilihat dari perspektif Islam yang didalamnya membahas mengenai kesesuaian postulat dan prinsip dipandang dari perspektif Islam.[1]
Akuntansi secara sosiologis saat ini telah mengalami perubahan besar. Akuntansi tidak hanya dipandang sebagai bagian dari pencatatan dan pelaporan keuangan perusahaan. Akuntansi telah dipahami sebagai sesuatu yang tidak bebas nilai (value laden), tetapi dipengaruhi nilai-nilai yang melingkupinya. Bahkan akuntansi tidak hanya dipengaruhi, tetapi juga mempengaruhi lingkungannya (lihat Hines 1989; Morgan 1988; Triyuwono 2000a; Subiyantoro dan Triyuwono 2003; Mulawarman 2006).
Ketika akuntansi tidak bebas nilai, tetapi sarat nilai, otomatis akuntansi konvensional yang saat ini masih didominasi oleh sudut pandang Barat, maka karakter akuntansi pasti kapitalistik, sekuler, egois, anti-altruistik. Ketika akuntansi memiliki kepentingan ekonomi-politik MNC’s (Multi National Company’s) untuk program neoliberalisme ekonomi, maka akuntansi yang diajarkan dan dipraktikkan tanpa proses penyaringan, jelas berorientasi pada kepentingan neoliberalisme ekonomi pula (Mulawarman 2007d).
Sayangnya, yang terjadi saat ini adalah praktek dari sistem akuntansi barat yang lebih mengarah kepada sistem bebas nilai guna meraih keuntungan sebesar – besarnya. Tapi apakah sistem akuntansi barat tersebut telah berhasil memakmurkan kehidupan seluruh umat manusia secara global ? Ternyata tidak. Karena sistem akuntansi tersebut hanyalah ciptaan dari manusia, maka sistem akuntansi barat tersebut tetap tidak akan sempurna. Terbukti dengan krisis global yang melanda seluruh dunia akibat dari gagalnya sistem akuntansi konvensional yang digadang – gadang oleh barat. Sekarang setelah sistem akuntansi konvensional yang ada telah gagal, adakah solusi yang masuk akal untuk mengatasi segala krisis yang ada. Sistem akuntansi syariah bisa menjadi solusinya.[2]

B.                 Perumusan Masalah
Berdasarkan pada uraian latar belakang masalah di atas, dapat penulis rumuskan masalahnya yaitu sebagai berikut:
1.                  Apa Perbedaan Postulat / Prinsip Akuntansi Konvensional dan Akuntansi Islam ?
2.                  Apa Perbedaan Karakteristik Akuntansi Konvensional dan Akuntansi Islam ?



C.                Tujuan Penulisan
Berdasarkan dari rumusan masalah yang ada, tujuan dari penulisan ini ialah :
1.                  Mendeskripsikan Perbedaan Postulat / Prinsip Akuntansi Konvensional dan Akuntansi Islam.
2.                  Mendeskripsikan Perbedaan Karakteristik Akuntansi Konvensional dan Akuntansi Islam.

D.                Manfaat penulisan
1.                  Manfaat penulisan bagi pembaca yaitu sebagai informasi bagi pembaca untuk dapat mengetahui informasi mengenai Perbedaan Postulat/Prinsip dan Karakteristik Akuntansi Konvensional dan Akuntansi Islam.
2.                  Manfaat penulisan bagi penulis yaitu untuk menambah wawasan, serta mengembangkan cakrawala penulis tentang Perbedaan Postulat/Prinsip dan Karakteristik Akuntansi Konvensional dan Akuntansi Islam.

E.                 Metode penulisan
Metode penulisan ini adalah berdasarkan informasi yang diperoleh dari buku reference dan mars media melalui internet serta sumber-sumber terpercaya lainnya.

F.                 Sistematika Penulisan
Sistimatika penulisan ini adalah terdiri dari tiga bab. Bab pertama berisi Pendahuluan, meliputi Latar belakang masalah, Perumusan Masalah, Tujuan Penulisan, Manfaat Penulisan, dan Sistematika Penulisan. Sedangkan Bab kedua berisi Pembahasan. Bab tiga merupakan bab terakhir yang berisi kesimpulan dan saran.


BAB II
PEMBAHASAN[3]

A.                Perbedaan Postulat / Prinsip Akuntansi Konvensional dan Akuntansi Islam
Postulat Akuntansi adalah pernyataan yang dapat membuktikan kebenarannya sendiri atau disebut juga aksioma yang sudah diterima karena kesesuaiannya dengan tujuan laporan keuangan, yang menggambarkan aspek ekonomi, politik, sosiologis, dan hokum dari suatu lingkungan dimana akuntansi itu beroperasi.[4]
Secara prinsip terjadi beberapa perbedaan yang mendasar, akuntansi konvensional lebih memberi kelonggaran penilaian laporan keuangan dengan menilai hanya terbatas pada kewajaran (kebenaran relatif) yang merujuk pada standar yang berlaku, sedangkan akuntansi syari’ah tuntutannya adalah kebenaran hakiki (al-haq) atau kebenaran moral yang harus dipertanggungjawabkan dihadapan Allah, walaupun di satu sisi akuntansi syari’ah juga harus merujuk pada standar tetapi standar tidak dimaksudkan sebagai pembenaran, artinya laporan yang dibuat sesuai dengan standar tidak selalu benar menurut syari’ah, bila secara substansi laporan menyimpang dari prinsip-prinsip syari’ah (Hidayat, 2002a:88-89).
            Akuntansi konvensional lebih pada pemenuhan ketentuan standar-standar yang dibuat oleh manusia, sedangkan akuntansi syari’ah, mencoba menemukan apa yang seharusnya dibuat sesuai dengan anjuran Tuhan (wahyu), dalam tataran ini akuntansi syari’ah tidak hanya diikat agar berada pada koridor standar akun-tansi tetapi diikat pula dengan pertanggungjawaban dihadapan Tuhan (normatif religius).
            Dari segi tujuan, antara akuntansi konvensioanal dengan akuntansi syari’ah memiliki kemiripan yang hampir sepadan, karena beberapa poin tujuan memang sama, seperti dalam hal laporan keuangan sebagai pemasok informasi, hanya pada titik tekan tertentu akuntansi konvensional memberikan laporan kinerja historis yang memberikan informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan sebagai alat dalam pengambilan keputusan bisnis, sedangkan akuntansi syari’ah bukanlah merupakan tujuan, tetapi sarana untuk mencapai tujuan yakni pemenuhan kewajiban zakat secara benar, hal ini menjadikan akuntansi syari’ah memiliki titik tekan tujuan pada pertanggungjawaban (akuntabilitas) dihadapan Tuhan. Dengan kata lain laporan keuangan akuntansi konvensional titik tekan tujuan pada pemberian informasi, sedangkan laporan keuangan akuntansi syari’ah titik tekannya pada pertanggungjawaban (akuntabilitas).
            Laporan keuangan pokok akuntansi konvensional yang terdiri dari neraca, laporan laba-rugi, dan laporan arus kas, sedangkan pada akuntansi syari’ah masih ditambah lagi laporan keuangan lainnya yang harus disampaikan yaitu laporan zakat. Bahkan ada beberapa laporan keuangan yang dibutuhkan oleh bank syari’ah antara lain laporan investasi tidak bebas penggunaan, laporan sumber dan penggunaan dana qardh (Media Akuntansi, 2000:21).

Menurut Haniffa dan Hudaib (2001); Muhammad (2002:16) Perbedaan Postulat antara akuntansi konvensional dengan akuntansi syari’ah, yang meliputi:
1.      Entitas, akuntansi konvensional mengakui adanya pemisahan antara entitas bisnis dan pemilik, dalam akuntansi syari’ah entitas tidak memiliki kewajiban yang terpisah dari pemilik.
2.      Going concern, bisnis terus beroperasi sampai dengan tujuan tercapai (akuntansi konvensional), kelangsungan usaha tergantung pada kontrak dan kesepakatan yang didasari oleh saling ridha (akuntansi syari’ah).
3.      Periode akuntansi, meskipun ada kesamaan dalam menentukan periode akuntansi selama 12 bulan (satu tahun) namun akuntansi konvensional periode dimaksudkan mengukur kesuksesan kegiatan perusahaan, sedangkan dalam akuntansi syari’ah periodisasi bertujuan untuk penghitungan kewajiban zakat.
4.      Unit pengukuran, akuntansi konvensional menggunakan unit moneter sebagai unit pengukuran, akuntansi syari’ah menggunakan harga pasar untuk barang persediaan, dan emas sebagai alat ukur dalam penghitungan zakat.
5.      Pengungkapan penuh (menyeluruh), pengungkapan ini ditujukan sebagai alat dalam pengambilan keputusan, dalam akuntansi syari’ah pengungkapan penuh ditujukan untuk memenuhi kewajiban kepada Allah swt., kewajiban sosial, dan kewajiban individu.
6.      Obyektivitas, bebas dari bias subyektif, dalam akuntansi syari’ah obyektivitas dimaknai dengan konsep ketakwaan, yaitu pengeluaran materi maupun non-materi untuk memenuhi kewajiban,
7.      Meterialitas, ukuran materialitas dihubungkan dengan kepentingan relatif mengenai informasi terhadap pengambilan keputusan, sedangkan akuntansi syari’ah mengakui materialitas berkaitan dengan pengu-kuran yang adil dan pemenuhan kewajiban kepada Allah, sosial, dan individu.
8.      Konsistensi, yang dimaksudkan adalah pencatatan dan pelaporan secara konsisten sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang diterima oleh umum, dalam akuntansi syari’ah konsistensi dimaknai dengan pencatatan dan pelaporan secara konsisten sesuai dengan prinsip syari’ah.
9.      Konservatisme, akuntansi konvensional memilih teknik akuntansi yang paling memberikan pengaruh kecil terhadap pemilik, sedangkan akuntansi syari’ah memilih teknik akuntansi yang paling mengun-tungkan (berdampak posistif) bagi masyarakat. Secara jelas perbandingan dapat diamati dalam tabel berikut.
Perbedaan Postulat
Akuntansi Konvensional dengan Akuntansi Syari'ah






No.
Postulat
Akuntansi Konvensional
Akuntansi Syari'ah






1
Entitas
Pemisahan antara entitas bisnis dan pemilik
Entitas didasarkan pembagian laba




Entitas tidak memiliki kewajiban




terpisah dari pemilik.






2
Going Concern (Kesinambungan)
Bisnis terus beroperasi sampai ter capai tujuan dan semua asset ter jual.
Kelangsungan usaha tergantung pa da kontrak persetujuan anatar pihak yang terlibat dalam kegaiatan bagi hasil.






3
Periode Akuntansi
Akuntansi tidak dapat menunggu sampai akhir kehidupan perusahaan untuk mengukur sukses-tidaknya kegiatan perusahan
Tahun hijriyah untuk perhitungan zakat, kecuali untuk sektor pertanian berdasarkan musim panen






4
Unit Pengukuran
Pengukuran nilai moneter
Kuantitas atau harga pasar untuk




ternak, barang pertanian, dan emas untuk memenuhi kewajiban zakat.






5
Pengungkapan Penuh (Menyeluruh)
Untuk tujuan pengambilan keputusan.
Untuk menunjukkan pemenuhan kewajiban kepada Allah, kewajiban sosial, dan kewajiban individu.






6
Obyektivitas
Kepercayan terhadap pengukuran yaitu bebas dari bias subyektif
Berhubungan erat dengan konsep ketaqwaan, yaitu pengeluaran materi maupun non-materi untuk memenuhi kewajiban.






7
Materialitas
Dihubungkan dengan kepentingan relatif mengenai informasi terhadap pengambilan keputusan
Berkaitan dengan pengukuran yang adil dan pemenuhan kewajiban kepada Allah, sosial, dan individu.






8
Konsistensi
Dicatat dan dilaporkan secara kon sisten sesuai GAAP
Dicatat dan dilaporkan secara kon sisten sesuai dengan prinsip syari'ah






9
Konservatisme
Memilih teknik akuntansi yang paling memberikan pengaruh kecil terhadap Pemilik
Memilih teknik akuntansi yang paling menguntungkan (dampak posistif) bagi masyarakat.













B.                 Perbedaan Karakteristik Akuntansi Konvensional dan Akuntansi Islam
Menurut Baydoun dan Willet (1994:82) memetakan perbe-daan karakteristik akuntansi konvensional dengan akuntansi syari’ah sebagai berikut:
1.      Sistem akuntansi, akuntansi konvensioanal berdasarkan ekonomi yang rasional, sedangkan akuntansi syari’ah berdasarkan pada ketauhidan.
2.      Prinsip, prinsip akuntansi konvensional yang sekuler, individualis, memaksimalkan keuntungan, dan penekanan pada proses, akuntansi syari’ah berdasarkan pada prinsip syari’ah, kepentingan umat, keuntungan yang wajar, persamaan, dan rahmatan li al-‘alamin.
3.      Kriteria, akuntansi konvensional berdasarkan pada hukum perdagangan masyarakat kapitalis modern, penyajian informasi yang sangat terbatas, informasi yang diajukan atau pertanggungjawaban kepada pemilik, dalam akuntansi syari’ah kriteria berdasarkan pada etika yang bersumber pada hukum Al-Qur’an dan Sunnah, pengungkapan yang menyeluruh (full disclosure) untuk memenuhi kebutuhan informasi keuangan yang sesuai dengan syari’ah dan memenuhi kebutuhan Islamic Finance Report User, pertanggungjawaban kepada umat (masyarakat luas) [khususnya dalam memanfaatkan sumber daya] (lihat tabel berikut).








Perbedaan Karakteristik Akuntansi Konvensional dengan Akuntansi Syari'ah






No.
Karakteristik
Akuntansi Konvensional
Akuntansi Syari'ah






1
Sistem Akuntansi
Ekonomi yang rasional
Ketauhiddan (unity of God)






2
Prinsip Akuntansi
Sekuler
Syari'ah



Individualis
Kepentingan umat



Memaksimalkan keuntungan
Keuntungan yang wajar



Survival of the fittest
Penekanan pada proses
Persamaan Rahmatan li al-'alamin











3
Kriteria
Berdasarkan pada hukum perdagangan masyarakat kapitalis modern
Berdasarkan pada etika yang ber sumber pda hukum Al-Qur'an dan Sunnah













Penyajian informasi yang sangat Terbatas
Full disclosure untuk memenuhi




ketuhan informasi keuangan yang sesuai dengan syari'ah dan memenuhi kebutuhan Islamic Financial Report User








Informasi yang ditujukan pada per tanggungjawaban kepada pemilik modal
Pertanggungjawaban kepada umat/ masyarakat luas (khususnya dalam memanfaatkan sumberdaya).







BAB III
PENUTUP

A.                Kesimpulan
Dalam menilai penggunaan postulat dan prinsip akuntansi harusnya kita bisa melihat dalam paparan mana akuntansi diterapkan, jika kita berbicara mengenai akuntansi maka kita harus melihat lembaga apa yang menggunakannya. Jika berbicara mengenai akuntansi syariah maka kita harus melihat tujuan, arah, dan bagaimana komponen syariah itu di dalam akuntansi. Menurut kelompok kami atas analisa jurnal dan berbagai sumber maka kami lebih menyepakati bahwa lembaga keuangan syariah harusnya menggunakan sistem akuntansi yang berbasis pada syariah dimana nilai-nilai ”langit” terdapat didalamnya dan nilai pertanggungjawaban atas laporan keuangan tidak hanya kepada manusia namun juga pertanggungjawaban kepada Allah SWT.

B.                 Saran
Solusi terbaik adalah sistem akuntansi syariah untuk lembaga keuangan syariah harus diterapkan secara konsisten. Semoga cita-cita ini mampu menjadi kenyataan pada suatu hari nanti. Amin.



[1] Citra Ayudiati dkk. Postulat dan Prinsip-prinsip Akuntansi dalam Perspektif Islam serta perbandingannya dengan Akuntansi Syariah. http://share.pdfonline.com/400d8a1b6f3b415c9bbb07a7f728d1d9/Kel%202.htm
[2] Ennovialk. 2013. Perbandingan Akuntansi Syariah dengan Akuntansi Konvensional. http://ennovialk.blogspot.com/2013/04/perbandingan-akuntansi-syariah-dengan.html
[3] Nur Hidayat. 2012. PRINSIP-PRINSIP AKUNTANSI SYARI’AH: Suatu Alternatif Menjaga Akuntabilitas Laporan Keuangan. jurnals.files.wordpress.com/2012/06/naskah_09_029-kom-d-pmak9.doc
[4] Sofyan Syafri Harahap. 2001. Menuju Perumusan Teori Akuntansi Islam. (Pustaka Quantum : Jakarta)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar